Minggu, 10 Mei 2015

IHTB TRAVEL FAIR

IHTB Travel Fair adalah sebuah pameran travel yang diadakan oleh mahasiswa angkatan 2013 program studi IHTB (International Hospitality and Tourism Business). Acara berlangsung selama  hari ini didukung oleh Garuda Indonesia, BankMandiri, dan juga Abacus
Saya di IHTB Travel Fair

. Acara ini bertempat di Rotunda Cipura World Surabaya. Mungkin anda-anda belum tahu rotunda itu yang mana? Rotunda itu yang leaknya di depan My Kopi-O, Excelso, Ron’s Laboratory, dan Pancious.

Di dalam acara ini, saya merupakan salah satu vendor stand. Stand saya berisi bisnis tour and travel yang diberi nama LOT yang merupakan bisnis bersama dari IHTB sendiri. Saya dipercayakan untuk menjadi koordinator dalam marketing communication di tim LOT ini. LOT adalah Laboratory of Tourism yang diresmikan tanggal 8 Mei 2015 kemarin. Saya melihat antusias para pegunjung Ciputra World Surabaya yang tertarik dengan paket tour yang kami tawarkan. Kami menawarkan paket tour mulai dari Bromo, Banyuwangi, Malang, Lombok, dan juga masih banyak lagi.

Rata-rata para pengunjung tertarik dengan paket tour ke Lombok dengan harga mulai dari IDR 2.000.000 per paxnya. Paket tour tersebut tidak termasuk tiket pesawat dikarenakan harga tiket pesawat yang sifatnya tentative atau tidak pasti.Selama 7 hari berlangsungnya acara ini, kami dari LOT mndatkan1 hari minimal 1 costumer yang meminta penawarn untuk paket tour ke Lombok. Mulai dari berjumlah 4 orang, hingga 10 orang.


Kami berharap, kedepan IHTB Travel Fair ini dapat diadakan di tempat yang lebih mendukung, dan juga dengan konsep dan konten acara yang lebih menarik.

Senin, 20 April 2015

Banyuwangi Juga Punya Potensi Atraksi Wisata



Jumat 17 April kemarin, di gedung budaya Cak Durasim Surabaya kedatangan lagi tamu dari Kota Banyuwangi yang mempresentasikan budaya lokal asli Banyuwangi. Jumlah pengunjung yang banyak sekali membuat suasana semakin panas dan menarik. Acara tersebut dibuka dengan Tarian Hastungkara. Tarian Hastungkara adalah sebuah tarian tradisional yang menggunakan dalang dan barong sebagai salah satu peran di dalam tariannya. Banyak stand-stand yang turut membantu mendukung diadakannya acara tersebut. 

 Tarian Pembuka Hastungkara

Acara tersebut berlangsung hingga pukul 21.30 malam. Tidak pernah sepi pengunjung acara tersebut. Keingintahuan masyarakat mengenai atraksi lokal banyuwangi menjadi daya tarik wisata. Saya yakin dan percaya setelah acara kemarin semakin banyak wisatawan yang ingin langsung datang ke Banyuwangi yang asli.

Para Pengisi Acara
 
Kembali acara budaya lokal kota-kota di Jawa Timur menarik pengunjung dan wisatwan untuk menyaksikannya secara langsung walaupun harus berdesak-desakan antara satu dengan yang lain. Ternyata kisah dan adegan Banyuwangi merupakan salah satu cerita dari kisah Panji yang telah saya pelajari. Dari kisah tersebut divisualisasikan menjadi sebuah acara bertemakan Banyuwangi Sunrise of Java. Acara tersebut merupakan salah satu cara untuk mempromosikan budaya yang dimiliki sehingga bisa dijadikan potensi wisata.


 

Senin, 16 Maret 2015

Panji Bisa Berseni



­­­­­­­                Pertemuan kelas panji kali ini mendatangkan seorang pembicara yang merupakan seorang pendeta sekaligus seorang dalang bernama Ki Lukas Eko Sukoco. 2 hari berturut-turut bertatap muka dengan Pak Lukas Eko mempelajari mengenai seni pertunjukkan wayang dalam budaya Panji. Dirinya menjelaskan bahwa ternyata budaya Jawa patut dilestarikan. Ia mulai tertarik dengan dunia wayang disebabkan karena yang dulu ayahnya dan kakeknya merupakan seorang dalang. Akhirnya Pak Lukas Eko mulai menggeluti dunia perpanjian karena rasa ingin tahunya yang tinggi dalam hal perpanjian. 

Saya bersama Pak Lukas Eko Sukoco
 
Di dalam seni pertunjukkan wayang, ternyata cerita Panji terdapat dalam seluruh cerita wayang. Hanya saja cara penyampaiannya yang berbeda. Tiap wayang memiliki ciri khasnya masing-masing. Ada 5 macam wayang yang dijelaskan oleh Pak Lukas Eko yaitu:
1.       Wayang Purwa
2.       Wayang Beber
3.       Wayang Gedhog
4.       Wayang Krucil
5.       Wayang Klithik

Pak Lukas Eko Sukoco membawakan materi pembelajaran
 
Setiap wayang yang disebutkan diatas memiliki ciri-cirinya masing-masing. Yang paling menarik adalah wayang purwa yang ternyata merupakan wayang yang dapat dimodifikasi cara menyajikan / cara menampilkannya. Sedangkan wayang yang lainnya tidak dapat dimodifikasi karena adanya kepercayaan bahwa wayang tersebut hanya keturunan dari pemilik lah yang dapat menyajikannya dalam bentuk pertunjukkan.



Bahkan dalam beberapa cerita lokal Jawa seperti Andhe-andhe Lumut, diambil dari cerita budaya Panji sendiri. Masih banyak lagi cerita lainnya yang mengambil dari cerita budaya Panji. Dan yang lebih menarik lagi ternyata seni pertunjukkan tersebut dapat digabungkan dengan era modern sekarang tanpa perlu menghilangkan budaya aslinya sendiri. Dari hal tersebut kita tahu bahwa ternyata budaya sekalipun dapat ikut berkembang seiring berkembangnya jaman tanpa menghilangkan budaya aslinya. Hanya saja masalahnya sekarang tergntung dari sumber daya manusiz yang ingin melestarikannya.

Senin, 09 Maret 2015

Panji Berkembang Lagi!

 Jumat, 6 Maret 2015, kelas Panji yang diadakan oleh Jurusan IHTB Universitas Ciputra mengundang seorang pembicara yaitu Heri Prasetya, sering disebut “Heri Lentho”.

Saya dan salah satu topeng Panji

Teman-teman bersama dengan Topeng Panji
 
Siapakah beliau? Beliau terkenal sebagai ahlinya seni pertunjukan yang ada khususnya di Surabaya. Ternyata beliau adalah penggagas diadakannya Cak Durasim Festival, Festival Jawa Timur, dan juga Surabaya Full Music. Dari keahliannya menari, ia adalah seorang koreografer beberapa seni pertunjukan tari di beberapa acara, dan yang pastinya ia adalah koreografer seni tari di acara yang digagaskannya tersebut.         
                                                                                        
Kami bersama Pak Heri Lentho, Pak Dwi Cahyono, dan dosen IHTB Pak I Dewa Gde Satrya 

Panji merupakan sebuah cerita lokal Jawa Timur yang dilandaskan pada kisah cinta antara seorang pangeran dan seorang puteri yang akhirnya menikah. Panji hamper sama dengan kisah “Romeo and Juliet.” Hanya saja Panji memiliki ending yang menyenangkan alias tidak ada kematian di dalamnya. 

Cerita Panji ini sangat eksis di abad 14 – 16 lebih tepatnya pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit. Dan sayangnya sekarang cerita Panji itu sudah mulai tidak dikenal lagi oleh masyarakat. Disebabkan karena jaman modern yang semakin memajukan teknologi untuk sosialitas bukan memajukan teknologi untuk melestarikan budaya. Tetapi kita semua punya akal dan budi, kan? Pastinya kita bisa memanfaatkan teknologi untuk melestarikan budaya tersebut.

Sekarang ini, Panji dikenal bukan hanya di Indonesia sendiri. Melainkan dikenal juga hingga ke Myanmar, Thailand, Kamboja, bahkan Malaysia. Hanya saja mereka mengenal Panji bukan dengan sebutan “Panji” melainkan sesuai dengan sebutan mereka masing-masing. 

Ada 14 macam seni pertunjukan Panji, sebagai berikut:
1.       DONGENG (Kentrung)
2.       WAYANG BEBER
3.       WAYANG GEDHOG
4.       WAYANG KRUCIL
5.       WAYANG TOPENG
6.       KETOPRAK
7.       KESENIAN JARANAN/JATHILAN
8.       REOG PONOROGO
9.       KETHEK OGLENG
10.   GAMBUH, LEGONG, GEBYAR (BALI)
11.   SENDRATARI
12.   LUDRUK
13.   TEATER MODERN
14.   OPERA MUSIK

Dari 14 macam tersebut kita dapat melestarikan budaya panji dengan mengaplikasikan kisah panji kedalam seni pertunjukan tersebut. Melestarikan budaya panji tidaklah sulit. Dibutuhkan kemauan dan keyakinan untuk melestarikan budaya tersebut. Seperti yang telah dilakukan oleh Pak Heri Lentho dalam setiap kegiatan yang dilakukannya. 

Pelestarian Budaya Panji mencakup 3 ikatan yaitu: Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan. 3 ikatan tersebut tidak dapat dipisahkan karena jika salah satu tidak berhasil, maka tidak akan menghasilkan pelestarian yang maksimal, malah dapat merusak budaya tersebut.

Dari kelas Panji kemarin, akhirnya saya mengerti bahwa kisah Panji dapat dilestarikan dengan sangat mudah melihat era teknologi yang maju sekarang dapat kita manfaatkan dalam melestariknnya.

Sabtu, 21 Februari 2015

Beutiful Story of Nganjuk



Hari jumat yang lalu tepatnya 13 Februari 2014, Kabupaten Nganjuk mengadakan sebuah pagelaran seni yang diadakan di Gedung Cak Durasim Surabaya. Gedung tersebut terletak di jalan Genteng Kali, tepatnya di sebelah Bima Restaurant. Acara tersebut ternytata tidak kalah ramai dengan jumlah pengunjung bioskop pada umumnya. Kurang lebih disediakan 300 buah kursi agar para penonton yang dating dapat menyaksikan acara tersebut dengan nyaman dan tidak perlu capai-capai berdiri.

Acara tersebut dikemas dalam rangkaian kegiatan seprti seni tari, pagelaran drama, dan masih banyak lagi acara lainnya. Pada waktu itu yang membuat saya tertarik adalah pagelaran drama Legenda Rara Kuning. Dimana ceritanya mengisahkan putri Nganjuk terkena penyakit dan disembuhkan. Tidak ada satu penonton pun yang bersuara selama pagelaran tersebut berjalan. Tepuk tangan meriah dari penonton mengiringi drama tersebut.

Acara tersebut dimulai dari tanggal 13 Februari - 14 Februari. Di dalam acara tersebut terdapat beberapa stan yang berisi lukisan-lukisan khas nganjuk, topeng, batik nganjuk, bahkan ada stan yang berisi objek pariwisata yang terdapat di nganjuk. Ternyata Nganjuk juga tidak kalah menari objek wisatanya ibandingkan dengan beberapa objekpariwisata di Jawa Timur.

 
Saya dan para pengisi acara 

Menurut saya merupakan cara yang menarik danunik bagi Kabupaten Nganjuk untuk membudidayakan budaya, dan adatnya. Surabaya patut meniru hal tersebut demi melestarikan dan membudidayakan budaya kota Surabaya sendiri



Para pengisi acara dan tamu yang datang