Jumat, 6 Maret 2015, kelas Panji
yang diadakan oleh Jurusan IHTB Universitas Ciputra mengundang seorang
pembicara yaitu Heri Prasetya, sering disebut “Heri Lentho”.
Saya dan salah satu topeng Panji
Teman-teman bersama dengan Topeng Panji
Siapakah beliau? Beliau terkenal
sebagai ahlinya seni pertunjukan yang ada khususnya di Surabaya. Ternyata beliau
adalah penggagas diadakannya Cak Durasim Festival, Festival Jawa Timur, dan
juga Surabaya Full Music. Dari keahliannya menari, ia adalah seorang
koreografer beberapa seni pertunjukan tari di beberapa acara, dan yang pastinya
ia adalah koreografer seni tari di acara yang digagaskannya tersebut.
Panji merupakan sebuah cerita lokal
Jawa Timur yang dilandaskan pada kisah cinta antara seorang pangeran dan
seorang puteri yang akhirnya menikah. Panji hamper sama dengan kisah “Romeo and
Juliet.” Hanya saja Panji memiliki ending
yang menyenangkan alias tidak ada kematian di dalamnya.
Cerita Panji ini sangat eksis di
abad 14 – 16 lebih tepatnya pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit. Dan
sayangnya sekarang cerita Panji itu sudah mulai tidak dikenal lagi oleh
masyarakat. Disebabkan karena jaman modern yang semakin memajukan teknologi
untuk sosialitas bukan memajukan teknologi untuk melestarikan budaya. Tetapi kita
semua punya akal dan budi, kan? Pastinya kita bisa memanfaatkan teknologi untuk
melestarikan budaya tersebut.
Sekarang ini, Panji dikenal bukan
hanya di Indonesia sendiri. Melainkan dikenal juga hingga ke Myanmar, Thailand,
Kamboja, bahkan Malaysia. Hanya saja mereka mengenal Panji bukan dengan sebutan
“Panji” melainkan sesuai dengan sebutan mereka masing-masing.
Ada 14 macam seni pertunjukan
Panji, sebagai berikut:
1.
DONGENG (Kentrung)
2.
WAYANG BEBER
3.
WAYANG GEDHOG
4.
WAYANG KRUCIL
5.
WAYANG TOPENG
6.
KETOPRAK
7.
KESENIAN JARANAN/JATHILAN
8.
REOG PONOROGO
9.
KETHEK OGLENG
10.
GAMBUH, LEGONG, GEBYAR (BALI)
11.
SENDRATARI
12.
LUDRUK
13.
TEATER MODERN
14.
OPERA MUSIK
Dari 14 macam tersebut kita dapat melestarikan budaya panji dengan
mengaplikasikan kisah panji kedalam seni pertunjukan tersebut. Melestarikan
budaya panji tidaklah sulit. Dibutuhkan kemauan dan keyakinan untuk
melestarikan budaya tersebut. Seperti yang telah dilakukan oleh Pak Heri Lentho
dalam setiap kegiatan yang dilakukannya.
Pelestarian Budaya Panji mencakup 3 ikatan yaitu: Perlindungan,
Pengembangan, dan Pemanfaatan. 3 ikatan tersebut tidak dapat dipisahkan karena
jika salah satu tidak berhasil, maka tidak akan menghasilkan pelestarian yang
maksimal, malah dapat merusak budaya tersebut.
Dari kelas Panji kemarin, akhirnya saya mengerti bahwa kisah Panji dapat
dilestarikan dengan sangat mudah melihat era teknologi yang maju sekarang dapat
kita manfaatkan dalam melestariknnya.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar